Wawasan

Islam: Bahasa, Bangsa, dan Negara

Bahasa menunjukkan Bangsa”, demikian kata pepatah Malayu. Kemungkinan pepatah ini berasal dari amtsal (pepatah) Arab.

Setiap bangsa di dunia mempunyai bahasa. Bahasa yang sama biasanya merujuk ke bangsa yang satu. Keberadaan bangsa-bangsa di dunia, biasanya ditandai dengan berdirinya pemerintahan atau negara. Dengan adanya negara, maka bangsa dan bahasa dapat terbentuk secara sempurna.

Kita temukan dalam sejarah, ada bangsa dan bahasa yang pernah ada kemudian hilang. Kita ambil contoh, misalnya bangsa Qibti yang mempunyai sejarah panjang sebagai penguasa (pemerintah) lembah Nil, di Mesir. Bahasa dan aksara hieroglif (tulisan paku) dari bangsa ini, lenyap ditelan sejarah. Hilangnya bahasa dan bangsa tersebut berkait erat dengan hancurnya pemerintahan (negara) mereka.

Lain halnya bangsa Yahudi, yang di zaman kejayaannya memerintah di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Bangsa ini punah sejalan dengan hancurnya pemerintahan (negara) mereka. Bahasa dan tulisan mereka juga hampir-hampir lenyap ditelan zaman. Namun di abad 20 (1948) mereka dapat mendirikan Negara Israel. Dari situlah bahasa dan bangsa mereka dihidupkan kembali, hingga hari ini.

Begitulah berlaku sunnatullah dalam bangsa, bahasa, dan negara. Lahir, tumbuh berkembang dan mati, hingga hilang lenyap. Peristiwa sejarah tersebut, ada yang tercatat dalam sejarah umat manusia dan banyak yang tidak tertulis atau terdengar lagi kabarnya oleh generasi yang datang kemudian.

Dalam makalah ini kita tidak akan membahas tentang bangsa-bangsa atau bahasa-bahasa umat manusia. Tetapi kita akan mencoba memahami, bagaimana wahyu Allah Azza wa jalla (Al-Quran) dapat mempengaruhi bahasa dan bangsa atau membentuk bangsa dan bahasa di pentas peradaban dunia Islam.

Bangsa dalam Pengiktirafan (Legitimasi) Wahyu

Bangsa tidak selalu berasal dari satu keturunan nenek moyang. Sebagaimana dapat kita lihat dalam Al-Quran, surah Al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q. S., Al-Hujurat, 49: 13)

Kata “sya’bun dan syu’ub” berarti bangsa yang terdiri dari berbagai “qabilah dan qaba’il” yang menjadi satu, dan biasanya terbentuk dari satu pemerintahan yang sama. Sedangkan “qabilah dan qaba’il” terdiri dari beberapa “bani-bani” yang terikat dalam perjanjian bersama. Kata ”bani” sangat erat dengan kelompok yang berdasarkan dari keturunan yang sama.

Dalam Al-Quran kita jumpai sebutan anak-anak bani Adam, yang merujuk kepada sekalian manusia. Dan anak-anak keturunan Israil, adalah bani Israil, yang merujuk kepada keturunan Nabi Allah Ya’kub A. S.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s